Macam-macam Puasa Sunnah

Diantara bentuk rasa kasih sayang Allah swt [kepada kita] adalah ia menciptakan ibadah-ibadah sunnah yang sejenis dengan ibadah ibadah fardhu untuk menutupi kekurangan yang terjadi dalam ibadah fardhu dari satu sisi, dan untuk menambah pahala dari sisi lain. Dan puasa sunat itu terbagi dua macam:

1. Puasa sunnah mutlak (tetap) 
2. Puasa sunnah muqayyad (tertentu)

Puasa sunnah muqayyad lebih dikuatkan dari pada puasa sunnah mutlak, sama seperti shalat, shalat sunnah muqayyad lebih afdhal (utama) dari pada shalat sunnah mutlak.

Puasa Sunnah

Puasa-puasa sunnah itu adalah:

1. Ayyaam ul-Baidh (Hari-hari putih), yaitu tanggal 13, 14, dan 15 berdasarkan hadist Abu Dzarr yang statusnya hasan menurut at-Tirmidzi. Ia berkata, "Rasulullah saw bersabda:

"Jika kau berpuasa tiga hari dari setiap bulan, maka berpuasalah pada tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas."

Dianjurkan berpuasa sebanyak tiga hari dari setiap bulan. Akan tetapi lebih afdhal dikerjakan pada "hari-hari putih" tadi.

2. Puasa senin dan kamis; karena sabda Rasulullah saw:

"Keduanya (senin dan kamis) adalah hari dimana catatan-catatan amal diperlihatkan kepada Allah swt, dan aku ingin ketika catatan-catatan amalku diperlihatkan, aku sedang berpuasa."

Puasa senin lebih dikuatkan; karena ketika Rasulullah saw ditanya tentangnya, beliau menjawab: "Itu adalah hari dimana aku dilahirkan, aku diutus (menjadi rasul) dan diturunkan Al-Qur'an kepadaku."


3. Adapun puasa pada hari Jum'at, maka makruh hukumnya berpuasa pada hari itu saja (menyendirikannya); karena hadist yang diriwayatkan Muslim dimana Rasulullah saw bersabda:

"Jangan kalian berpuasa pada hari Jum'at kecuali kalian berpuasa satu hari sebelum nya atau satu hari sesudahnya. "

4. Adapun hari Sabtu, maka menurut pendapat yang shahih boleh berpuasa pada hari itu tanpa menyendirikannya. Dalil nya perkataan Rasulullah saw kepada salah seorang istrinya," Apakah kau berpuasa besok?. "Maksudnya hari Sabtu.

Adapun hadist Abu Daud:

"Janganlah kalian berpuasa pada hari Sabtu kecuali pada puasa yang diwajibkan atas kalian",

Ini adalah hadist yang diperdebatkan tentang keshahihannya, nasakh-nya, syaz-nya dan apakah yang dimaksud mempuasakannya secara tersendiri ataulah tidak?

5. Adapun hari ahad, maka sebagian ulama berpendapat makruh hukumnya bila dikhususkan untuk berpuasa; karena berpuasa pada hari ahad mengandung makna menganggungkan apa yang di agungkan orang kafir. Kalau begitu hari Jum'at, Sabtu dan Ahad dimakruhkan bila dikhususkan untuk berpuasa. Adapun jika menggabungkan dengan hari sesudahnya, maka tidak mengapa.

6. Adapun hari Selasa dan Rabu maka boleh mempuasakannya.
Puasa enam Syawal: Puasa ini lebih afdhal dikerjakan sesudah hari raya langsung, karena hal tersebut mengandung makna berlomba kepada kebaikan. Kemudian lebih baik dikerjakan secara berturut-turut, karena yang demikian itu biasanya lebih mudah.

7. Puasa Muharram; karena hadist yang dikeluarkan oleh Muslim di mana Rasulullah saw bersabda:

"Puasa yang paling utama sesudah Ramadhan adalah puasa bulan Muharram; bulannya Allah.

Puasa Muharram yang paling dikuatkan adalah puasa pada tanggal sepuluh (10) kemudian tanggal (9); karena hadist yang dikeluarkan oleh Muslim bahwa Nabi Muhammad saw ditanya tentang puasa hari 'Asyura'  (10 Muharram).
Lalu beliau menjawab:

"Aku berharap kepada Allah semoga pahalanya menghapus dosa setahun yang sebelumnya."

Dan karena sabda Rasulullah saw:

"Jika aku masih hidup sampai tahun depan, aku pasti berpuasa pada tanggal sembilan (9) [Muharram]."

8. Puasa 9 Dzulhijjah: Yang paling dikuatkan di antaranya adalah puasa Arafah bagi orang yang tidak mengerjakan haji; karena sabda Rasulullah saw:

"Dari antara hari-hari beramal saleh tak ada hari yang lebih Allah sukai dari hari-hari yang sepuluh ini. Dan berpuasa termasuk amal saleh.




Tidak ada komentar untuk "Macam-macam Puasa Sunnah"

Iklan Tengah Artikel 2