Tata Cara I'tikaf: Makna Dan Sunnahnya

A. Makna Itikaf

Makna I'tikaf adalah berdiam diri di masjid untuk beribadah kepada Allah swt. I'tikaf hanya boleh dilakukan di masjid tidak boleh dilakukan di mushalla, rumah, ataupun sekolah. Karena Allah swt menetapkan tempat I'tikaf itu adalah di masjid. Allah berfirman dalam (QS. Al-Baqarah ayat 187) yang berbunyi: 


"Tetapi janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu ber-I'tikaf dalam masjid." (QS. Al-Baqarah ayat 187)


I'tikaf


Hal Hal Yang Disunatkan Bagi Orang Yang Ber-I'tikaf

1. Menyibukkan diri dengan ibadah, bukan dengan ilmu, kecuali sesuatu yang langka yang jika tidak dia segerakan mempelajarinya, dia akan kehilangannya, maka ketika demikian menyibukkan dirinya dengan (ilmu) lebih afdhal dari pada I'tikaf.

2. Menghindari hal-hal yang tidak bermanfaat, baik ucapan maupun perbuatan; karena sabda Rasulullah saw: "Diantara (tanda) bagusnya keislaman seseorang adalah dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya." (Shahih). HR. At-Tirmidzi (2317) dan Ibn Majah (3976). Dishahihkan oleh Al-'Allamah Al-Albani -Rahimahullah - dalam Shahih ul-Jaami' (5911).

Kemudian beliau sendiri pernah I'tikaf pada sepuluh hari pertama, kemudian pada sepuluh hari pertengahan. Sesudah itu manakala dikatakan kepada beliau bahwa Lailatul Qadar itu berada pada sepuluh hari terakhir, beliau tidak i'tikaf pada tahun berikutnya kecuali pada sepuluh terakhir.

Oleh karena itu, siapa yang ber i'tikaf pada bulan selain Ramadhan, maka ia tidak dianggap berbuat Bid'ah, dan kita tidak melarangnya dari hal tersebut; bahwa ia ditolerir dengan apa yang berasal dari izin beliau kepada Umar.

Kapan seseorang boleh keluar tempat I'tikafnya?


Ketika ada keperluan mendesak yang harus dikerjakan (seperti makan, minum, dan buang air besar). Adapun yang tidak boleh keluar karenanya, seperti menjenguk orang yang sakit dan melayat jenazah, maka ia tidak boleh keluar kepadanya kecuali jika ia mensyaratkan hal tersebut sejak awal, dan ini diqiyaskan kepada sabda Rasulullah saw, "Hajilah dan syaratkanlah." 


Namun, jika orang yang sakit tadi memiliki hak atasnya dan diduga akan meninggal dunia, sementara jika ia tidak menghubunginya dapat dianggap memutuskan silaturahmi, maka ini termasuk hal yang mendesak.

Apakah orang yang sedang berI'tikaf boleh dikunjungi oleh seseorang dari kerabatnya untuk berbincang-bincang sejenak?


Ya, boleh, karena hadist yang termuat dalam shahih ul-Bukhari dan Shahih ul-Muslim bahwa Shafiyah binti Huyay pernah mengunjungi Nabi Muhammad saw di tempat I'tikafnya serta berbincang-bincang dengannya sejenak, dan karena hal tersebut dapat menimbulkan keakraban, dan ini termasuk maqaashid syara.




Tidak ada komentar untuk "Tata Cara I'tikaf: Makna Dan Sunnahnya"

Iklan Tengah Artikel 2